Menatap pada dinginnya lantai
Memohon entah pada sesuatu apa
Apa saja yang terlintas
Air mata terjebak di tenggorokan
Menolak menerjang keluar
Meninggalkan kata yang membeku
Puitisasi yang tidak akan pernah meninggalkan bibir
Dalam gelap, malam menyembunyikan diri
dari para mata liar yang ingin membongkar rahasia
Tentang kesedihan dalam hidup di tengah kegembiraan lampu-lampu
Jemari telah kusut di rambut
Gambar terbakar di balik punggung, melarikan diri dari erangan
Jangan sampai terdengar para penguping
Berharap dunia tenggelam dalam catatan kenangan yang telah tercemar oleh waktu
Terikat, menggantung dari langit-langit, membiarkan pikiran bertanya-tanya pada kegelapan
Lalu tidur mengambil alih
Pencerahan yang muncul dari ujung lorong
Silau, tapi sejuk
Saatnya terbangun untuk menghadapi hari lain
Saat engkau meraih kedua tanganku
Dan berkata, "Apa kabar ?"
Memohon entah pada sesuatu apa
Apa saja yang terlintas
Air mata terjebak di tenggorokan
Menolak menerjang keluar
Meninggalkan kata yang membeku
Puitisasi yang tidak akan pernah meninggalkan bibir
Dalam gelap, malam menyembunyikan diri
dari para mata liar yang ingin membongkar rahasia
Tentang kesedihan dalam hidup di tengah kegembiraan lampu-lampu
Jemari telah kusut di rambut
Gambar terbakar di balik punggung, melarikan diri dari erangan
Jangan sampai terdengar para penguping
Berharap dunia tenggelam dalam catatan kenangan yang telah tercemar oleh waktu
Terikat, menggantung dari langit-langit, membiarkan pikiran bertanya-tanya pada kegelapan
Lalu tidur mengambil alih
Pencerahan yang muncul dari ujung lorong
Silau, tapi sejuk
Saatnya terbangun untuk menghadapi hari lain
Saat engkau meraih kedua tanganku
Dan berkata, "Apa kabar ?"

No comments:
Post a Comment