Sunday, June 14, 2015

Incognito

“The minute I heard my first love story I started looking for you, not knowing how blind that was. Lovers don't finally meet somewhere. They're in each other all along.” -  Jalal ad-Din Rumi


Pesanku pada sinyal yang melayang tipis mungkin tak sempat menjadi frekuensi yang dapat diterjemahkan. Sebelumnya, ini hanya tentang kisah gravitasi yang tak sampai, pada suatu masa yang tak pernah tenang. Ketika meja makan dipenuhi hidangan kenangan. Diriku menjelang hampiran hari yang makin letih. Mungkin kita sama-sama tak akan mengerti apakah pantai yang terkenang lautan ataukah sebenarnya samudera yang menghamba tepi daratan. 

Di seputaran layar berbayang aku menatapmu, bukan diriku. Membelai wajah yang hilang timbul. Tak pernah berkata senyatanya. Kau bilang aku seperti celupan strawberry di chocolate fondant. Air mancur yang menggiurkan. Tapi, kau pun begitu. Membuatku mabuk, gontai pada waktu yang panjang. Dan nyaris tak menemukan kesadaran kembali.

Masih ingat tentang cerita rembulan retak yang meleleh menjelang pagi? Itu hanya dongeng sebelum tidur. Semoga tak kau artikan aku. Sejatinya mencoba berkata dalam selubung itu jauh lebih sulit dari kejujuran yang teraduk dalam cangkir senyum. Sejumput gula memang manis, tapi itu bukan rasa yang sebenar-benarnya. Hanya penambah cita rasa sebagai ilusi kenikmatan semata.

Sama seperti aku yang tak ingin kau menjadi candu bagiku, aku pun ingin lepas dari kehadiran sebagai bayangan yang menghantui dirimu. Kita berdua adalah wujud tak nyata satu sama lain. Nestapa yang bahagia karena imajinasi. Saling menatap berarti saling menghipnotis. 

Kau sadar, bahwa itu tengah membunuh kita perlahan tapi pasti? Menyayat hingga sumsum dan mengorek lubus frontal. Menjadikan kita mayat hidup yang hanya fokus pada kerakusan. Rakus akan rindu masing-masing. Dan sama sekali hanya menjadi kerinduan yang membuat kita menangisi perpisahan. Itu aneh bukan? Bukankah kita memang terlahirkan terpisah? Bila tak pernah ada pertemuan, mengapa menangisi ketakjumpaan?

Tapi rindu yang mendalam itu lebih mengerikan dari virus. Hal yang bisa merusak otak itu adalah prion. Partikel protein yang menjadi penyakit menyakitkan karena terus-menerus dihamba. Namun prion bukanlah virus, bukan pula makhluk hidup. Maka sebagai rasa penuh damba, kerinduan bagai prion yang tidak mungkin dihancurkan dan tak ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit yang disebabkannya. Kutukan yang menakjubkan.

Selalunya orang-orang yang melintas di jalan terhimpit oleh pikiran tujuan masing-masing. Melaju seakan berbalap waktu, pada lokasi antah berantah yang tak berhampiran satu sama lain. Sedangkan aku memilih terjebak pada kehampaan yang menyenangkan, saat tidak ada lagi ya dan tidak yang menjadi pilihan meletihkan. Pertanyaan yang selalu berulang tanpa henti hingga penghujung hari. Aku pun tak berusaha bertanya tentang itu padamu. Kehampaanmu juga pastinya menyenangkan di sana. Terentang pada masa yang menggelepar karena asa yang membumbung. Lebih menyenangkan seperti itu bukan? 

Aku, kamu, hanyalah kupu-kupu dengan masing-masing satu sayap, tapi tak akan menjadi satu untuk terbang bersama. Menjadi satu itu takdir yang menyakitkan. Karena kita adalah dua pribadi yang berbeda. Yang memiliki cara pikir dan pandangan masing-masing. Maka penyatuan akan merusak itu semua. Bagai api dan es. Tidak bisa terbang pun adalah kegembiraan yang seharusnya kita rasakan sebagai sebuah lembaran hidup yang memiliki peta tersendiri. 

Kita bukan seperti orang lain yang memuja cinta dalam kata-kata indah. Rayuan yang seperti lap basah untuk membersihkan lantai. Mereka saling memuja dalam keinginan kenikmatan intim belaka. Dan itu menjijikkan, menciderai asmara dengan ranjang sebagai hidangan penutup. Menjadikan tubuh sebagai budak semu kesenangan.

Bila kau ada di sana malam ini, ketahuilah, sepanjang pemahaman kita tentang perasaan yang telah tumbuh, tak pernah aku berharap lebih selain dari senyum harianmu. Aku selalu menikmati aliran darah yang berkejaran setiap mengingat tatapan yang tak ada itu. Menyadari bahwa aku masih hidup dan milyaran sel otakku masih dipenuhi listrik yang menyalakan lampu pikiranku. Adamu membuatku hidup. Hanya begitu. Tak perlu ada kelanjutan sentuhan-sentuhan manis yang membuat bulu kuduk meremang. Karena kau pernah katakan padaku, sentuhan dan ucapan yang senyatanya sesungguhnya bersemayam dalam fatamorgana. Itulah yang selalu kita impikan. 

Hari itu kau katakan, "Aku cinta padamu". Lalu pergi. Sementara aku termenung. Kita artikan sepotong mantra itu bukan sebagai pertanyaan. Tak ada tanda tanya di sana, lalu mengapa harus dipaksakan ada jawaban. Maka hari pun mengalir seperti biasa. Tak ada perubahan. Kecuali desir yang makin membanjir itu. Aku dan kau tak pernah mengartikan surgawi berisi malaikat dan bidadari, ataupun berisi anggur dan sungai madu. Kita punya nirwana yang lain. Yang tak diartikan sebagai nafsu keintiman dan organ dalam perut belaka. Sekali lagi, itu karena kita adalah entitas yang tak sama dengan mereka. Dan kita punya cinta yang berbeda dengan orang lain di luar sana. Kita saling mencintai yang tak ingin saling memiliki.

No comments:

Post a Comment