Tuesday, March 24, 2015

Sepotong Sunyi di Pojok Kafe


Apa yang kurekam dari hujan seharian ini? Sore yang menusuk keriuhan kelebatan pengunjung serta sepotong sunyi di pojok kafe. Sebuah cerita yang perlahan terkoyak dari mulanya: tentang kita dan mungkin keberadaan sepotong tanda tanya. Seperti menunggu hujan berlalu, sementara pertemuan kita tak pernah tentu. Mungkin sesaat lagi. Mungkin esok. Mungkin, entah.

Tatapku kembali ke pangkuan hujan. Dari pagi, sepotong hati enggan pulang. Menderita pada pelukan, serta sekecup kenangan. Sesesap teh hangat, dan aroma kopi di langit-langit; melekat di rongga kenangan. Bersama lebat dan kabar yang bertubi-tubi, lalu piring pesanan yang tak jua terhidang.

Ah, biarkan matamu berhujan. Biarkan menderas. Dalam hujan, air mata pun merindukan tarian. Biarkan... selama lambaikan tangan kita tak pernah berarti perpisahan.

Begitu banyak cara mengingat seseorang. Salah satunya dari senyumannya. Terkadang dari sepotong kata-kata. Bukan perpisahan panjang. Ini cuma sebentar. Kupandangi tubuhmu, sekelebat menghilang di balik pintu. Di waktu yang dulu. Pintu yang sama.

No comments:

Post a Comment