Tatapku kembali ke pangkuan hujan. Dari pagi, sepotong hati enggan pulang. Menderita pada pelukan, serta sekecup kenangan.
Sesesap teh hangat, dan aroma kopi di langit-langit; melekat di rongga
kenangan. Bersama lebat dan kabar yang bertubi-tubi, lalu piring pesanan
yang tak jua terhidang.
Ah, biarkan matamu berhujan. Biarkan menderas. Dalam hujan, air mata pun
merindukan tarian. Biarkan... selama lambaikan tangan kita tak pernah
berarti perpisahan.
Begitu banyak cara mengingat seseorang. Salah
satunya dari senyumannya. Terkadang dari sepotong kata-kata. Bukan
perpisahan panjang. Ini cuma sebentar. Kupandangi tubuhmu, sekelebat
menghilang di balik pintu. Di waktu yang dulu. Pintu yang sama.

No comments:
Post a Comment