Tuesday, March 17, 2015

Sebuah Manifesto Indonesia dalam Warisan Sejarah Dunia

Indonesia di persimpangan jalan adalah Indonesia sejak awal abad masehi sebagai kelanjutan ledakan penduduk di lembah kebudayaan Babylonia, yang akibat pemainan poros setan telah tergelincir menjadi piala bergilir sepanjang sejarah 2000 tahun. Seperti kita ketahui sejarah bermula dari Adam, dari Adam ke Ibrahim kira-kira selama 2000 tahun, kemudian dari Ibrahim ke Nabi Isa sekitar 2000 tahun dan dari Nabi Isa hingga kita sekarang ini 2015 tahun. Dan Indonesia lahir dalam 2000 tahun terakhir dalam peredaran sejarah manusia yang 6000 tahun ini. Sejak 2000 tahun yang lalu secara bergilir 4 (empat) arus besar budaya/etnis yaitu Indo Mongol, Indo Aria, Indo Smith dan Indo Eropa menjajah sekaligus memberi nilai akulturasi proses pembentukan Indonesia. Mulai dari Animisme, Dinamisme, Hinduisme, Bhuda, Islam, Kristen dan alam pikiran Yunani termasuk Idealisme, Naturalisme Individualisme maupun Sosialisme Komunisme saling pengaruh mempengaruhi, warna mewarnai, dalam sinkritisme menjadi apa yang disebut budaya nenek moyang Indonesia, dari situlah pandangan dan sikap hidup bangsa Indonesia terbentuk yang disebut dengan bangsa majemuk.

Secara etnis Indonesia adalah ampas etnis Indo Mongol, ampas etnis Indo Aria, ampas etnis Indo Smith dan ampas etnis Indo Eropa dan secara budaya Indonesia adalah sampah/ampas Animisme, sampah/ampas budaya Hindu, sampah/ampas budaya Bhuda, sampah/ampas budaya Islam, sampah/ampas budaya Kristen dan sampah/ampas budaya ilmu Pengetahuan Yunani, yang membuat Indonesia terpojok dalam arus kebudayaan dan peradaban dunia. Kita ketahui pusat budaya Hindu, Budha, Islam, Kristen dan alam pikiran Yunani bukan di Indonesia, tetapi adanya di Sorbonne University, Cambridge University, Oxford University, Harvard University, atau Al-Azhar University. Sedangkan UI, UNPAD, ITB, IPB, UGM, UNDIP, ITS, UIN (IAIN dulu) hanya arus kecil yang memantulkan cahaya terang dari arus pokok ”megatrend”. Maka dalam arus ilmu, kebudayaan dan peradaban sudah dapat dipastikan panggung Indonesia diperuntukkan bagi mahasiswa yang mendapat beasiswa  arus "megatrend”, sedangkan mahasiswa dari arus pantul hanya sebagai complement pelengkap. Begitu ilmu di Indonesia dikontrol oleh ”poros setan” sejak 2000 tahun. Dapat kita lihat siapa penggerak Budi Utomo, Sumpah Pemuda, bahkan Proklamasi adalah mahasiswa yang mendapat beasiswa dari ”politik Ethis”.

Arus limbah etnis dan budaya dunia itu telah membentuk delta yang majemuk yaitu Indonesia, serta telah menjadikannya lantai dansa bagi sejarah peradaban dunia. Selama 2000 tahun bangsa Indonesia menjadi bangsa kuli, bangsa pengemis dan bangsa gembel di negeri sendiri tanpa bisa berbuat apa-apa melihat para penjajah mengangkut seluruh hasil tambang, perkebunan, hutan dan laut Indonesia. Sementara kita disibukkan dengan politik adu domba antar partai, antar suku, antar etnis dan agama yang dikendalikan dari luar. Sementara berapa trilyun rupiah telah dikeruk para penjajah, berapa ribu atau berapa juta ton emas, timah, batubara, bauksit, gas, minyak bumi, lada, cengkih, pala, ikan, CPO, udang untuk membangun peradaban poros setan. Bahkan berapa nyawa melayang dalam pejuangan atau korban kelaparan, berapa banyak wanita Indonesia secara suka rela atau terpaksa menjadi penghibur untuk sesuap nasi sepanjang perdaban 2000 tahun. Semua negara mencari makan di Indonesia mulai dari Amerika, Amerika Latin, Eropa, Asia , Arab, India, China bahkan serumpun Melayu Malaysia, Singapore, Brunei Darussalam dan Philiphina mencoba mengeruk keuntungan dari sumberdaya alam dan sumberdaya manusia Indonesia. Sementara Indonesia cuma dapat receh dari TKI yang kerja di manca negara karena sudah tidak kebagian makan di Indonesia.

Akan bangkitkah Indonesia dari tidur panjangnya selama 2000 tahun? Dari alam penjajahan selama 2000 tahun rasa senasib sepanggungan, sependeritaan, merasakan pahit getirnya sebagai anak jajahan maka timbul kesadaran bangsa ini membentuk bangsa baru, yaitu bangsa terakhir yang terbentuk di atas muka bumi ini yaitu bangsa Indonesia yang lahir 28 Oktober 1928. Bangsa baru, dengan bahasa persatuan baru dan tanah air baru telah lahir dalam alam penjajahan, lahir dari dalam ampas peradaban dan ampas etnis dunia. Aliran sampah etnis dan budaya telah sampai kepada satu titik mendelta subur menjadi pupuk pertumbuhan bagi budaya Indonesia majemuk. Budaya Indonesia majemuk sudah menuju kepada tingkat kematangan, yaitu kesadaran akan situasi kondisi baik internal maupun eksternal arus budaya. Sehingga pada tahapan selanjutnya adalah kesiapan untuk dibuahi oleh ”nutfah” kehidupan. Rahim Indonesia sudah kuat dan siap mengandung satu peradaban baru yang senilai dan kongruen sebangun dengan awal mula peradaban manusia ditugaskan dalam poros visi dan misi kebenaran.

Apakah proses yang akan dilalui Indonesia itu berupa revitalisasi, refinery, essensialisasi, pemurnian kembali seperti proses reproduksi manusia masing-masing menghasilkan sel telur dan sperma sehingga berproses menjadi nutfah sehingga pada usia kehamilan tertentu Tuhan melalui Malaikatnya memberi ruh untuk hidup. Doa panjang dalam perjuangan kemerdekaan agar berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa berpadu dengan keinginan luhur seluruh bangsa untuk berkehidupan kebangsaan yang bebas, bersatu berdaulat adil dan makmur dapat menjadi kenyataaan yaitu ”kemerdekaan Indonesia”. Doa panjang itu adalah doa undangan bahwa bangsa Indonesia sudah siap hamil dan siap menerima ruh budaya dari Tuhan Sang Pencipta, seperti di kehidupan awal proses penciptaan manusia sebagai mahluk mutaakhir ciptaan Tuhan, yang mendapat tugas manifestasi dan eksistensi ajaran Tuhan dalam kenyataan hidup.

Apakah Indonesia pantas menerima misi kekhalifahan untuk mementaskan lakon akhir jaman? Setelah menyaksikan kehancuran kebudayaan dan perdaban dunia dimulai kehancuran Namrudisme, Firaunisme Mesir, Imperium Media, Akkadia Asyiria, Babylonia maupun Imperium Persia di blok Timur yang materialisme, Imperium Romawi, Phoenisia, Jalut Filistin yang Individualisme. Kemudian bagaimana kejatuhan Imperium Ummayyah, Imperium Abbasiah, Imperium Fattimiah, Imperium Ottoman, begitu juga Imperium China, Tsar Rusia dihantam Komunisme Modern menjadi Uni Sovyet yang juga sudah hancur dan China menjadi Komunis Sangat Kapitalis melawan Amerika Kapitalis yang Sangat Komunis dalam Ekonomi.

Sedangkan di Indonesia bermula sejarah Imperium Hindu yaitu Kutai Kertanegara, Kalingga, Kediri, Singosari dan Majapahit. Dimana akhirnya Mataram dan Pajajaran melawan Imperium Budha Sriwijaya yang mendapat dukungan Imperium China Kubilaikan semua sudah hancur. Begitu Pula kesultanan-kesultanan Pagaruyung, Samudera Pasai, Demak, Pajang, Kesultanan Mataram, Cirebon, Banten dihancur leburkan oleh Portugis, Belanda dan Inggris dalam penjahan paska Revolusi Industri, yang kelak mereka juga dihancurkan dengan lahirnya Amerika, Unisovyet, China, Jepang dan Uni Eropa bahkan menjelang terbentuknya Uni Asia. Kini tampaknya makin mengkerucut apa yang di khawatirkan Samuel Huntington, Uni Eropa dibawah Pimpinan Amerika, Inggris dan Perancis sebagai juara bertahan mendapat tantangan dari Uni Asia dengan China, Jepang, Arab, Korea, Taiwan, Hongkong, untuk menyerahkan sabuk kekuasaan sejak Perang Dunia ke-II, atau perlu tarung ulang dengan menggelar Perang Dunia ke-III.

No comments:

Post a Comment