Semalam aku bermimpi, tentang seorang yang tampan, dan sepertinya aku
jatuh cinta padanya. Namun ternyata ia pembunuh yang mengerikan. Bersama seorang teman, aku menyelinap pergi, sementara di belakang sana
satu per satu pembantaian berlangsung. Lalu bertemu seorang kawan lagi
di jalan setapak itu, "Demi Tuhan, ikut kami! Jangan ke sana!" kataku
tercekat. Maka beringsutlah kami diam-diam. Namun sang pembantai yang
telah berubah menjadi sosok menyeramkan itu telah menguntit tepat di belakang.
Ah, ini hanya mimpi. Bangun, bangun! Bangunlah! Paksa diriku tentang
batas kenyataan dan mimpi. Maka kulalui lorong berputar untuk keluar
dari mimpi mengerikan ini. Syukurlah aku bisa terbangun. Kram di seluruh
tubuh dan sangat lelah. Di atas ranjang yang basah oleh keringat, masih
dengan napas memburu, kurangkai kembali ingatan akan mimpi itu. Lalu
gontai terbangkit dari pembaringan. Temanku mendekat dan tersenyum,
"Syukurlah, kita telah sampai di sini. Kita semua selamat!"
Aku menatapnya bingung. Berjalan keluar kamar, ke lorong arah tangga. Lalu di sudut mataku kulihat sosok itu di sana dengan sebilah pisau besar. Astaga! Apa-apaan ini? Maka kuberteriak memberi tanda bahaya pada teman-teman yang lain. Kami berlari tunggang-langgang hingga akhirnya menyadari ini tak akan pernah usai. Maka kuberbalik, berhadapan satu lawan satu dengan makhluk pembunuh itu, lalu mengamuk sejadi-jadinya, "Kamu tak nyata!" Tiba-tiba ia mematung, lalu menangis terisak
Kemudian seperti film yang beranjak usai, adegan berpindah perlahan, terus ke atas atap gedung yang kosong, kecuali sebuah onggokan tanah kecil dengan nisan tanpa nama yang tampaknya masih baru di tengah sana. Dan beberapa pot dengan bunga warna-warni mekar sempurna yang kontras dengan kesuraman ini. Gambar terus beralih naik ke atas memperlihatkan kota yang ruwet dan padat, dan mendung gelap menggantung, dan aroma badai, lalu ledakan berdentum-dentum di kejauhan.Usai. Aku terbangun. Kali ini sepertinya sudah benar-benar di ranjangku. Atau... entahlah.
Aku menatapnya bingung. Berjalan keluar kamar, ke lorong arah tangga. Lalu di sudut mataku kulihat sosok itu di sana dengan sebilah pisau besar. Astaga! Apa-apaan ini? Maka kuberteriak memberi tanda bahaya pada teman-teman yang lain. Kami berlari tunggang-langgang hingga akhirnya menyadari ini tak akan pernah usai. Maka kuberbalik, berhadapan satu lawan satu dengan makhluk pembunuh itu, lalu mengamuk sejadi-jadinya, "Kamu tak nyata!" Tiba-tiba ia mematung, lalu menangis terisak
Kemudian seperti film yang beranjak usai, adegan berpindah perlahan, terus ke atas atap gedung yang kosong, kecuali sebuah onggokan tanah kecil dengan nisan tanpa nama yang tampaknya masih baru di tengah sana. Dan beberapa pot dengan bunga warna-warni mekar sempurna yang kontras dengan kesuraman ini. Gambar terus beralih naik ke atas memperlihatkan kota yang ruwet dan padat, dan mendung gelap menggantung, dan aroma badai, lalu ledakan berdentum-dentum di kejauhan.Usai. Aku terbangun. Kali ini sepertinya sudah benar-benar di ranjangku. Atau... entahlah.
This comment has been removed by a blog administrator.
ReplyDeleteMaaf banget ya Sierra Louiza, komentarmu nggak sengaja terhapus olehku. Huhuhu Tapi sudah aku baca kok. Terima kasih ya atas apresiasinya dan telah mengunjungi blog-ku. Mana link blog kamu? Biar kita bisa saling follow. :)
ReplyDelete