Sunday, March 15, 2015

Manusia Makhluk Mutakhir

Manusia adalah mahluk terakhir dalam proses penciptaan alam semesta. Tuhan mencipta alam semesta termasuk di dalamnya Planet Bumi selama enam periode (hari), satu periode sama dengan 1000 tahun, sama dengan 6000 tahun. Dalam periode terakhir saat diciptakan manusia, sebelumnya telah diciptakan aneka ragam hewan dan tumbuh-tumbuhan, hujan, angin dan panas. Matahari sebagai sumber energi dalam keseimbangan gerak peredaran tata surya yang teratur dan dan seimbang terpola. Semua itu disediakan bagi manusia sebagai mahluk terakhir, semua sebagai penunjang logistik untuk kehidupan manusia.

Mengapa eksistensi manusia begitu penting dalam dunia ini? Karena manusia tidak sama dengan mahluk lain, telah disiapkan tempat bersemayamnya “Ilmu Tuhan” yaitu “qalbu”. Dalam qalbu tempat mengendapnya Ilmu sebagai landasan dan landasan budaya dan peradaban manusia. Manusia sebagai puncak proses penciptaan alam, sedangkan proses penciptaan selanjutnya adalah mencipta mahluk budaya. Hanya manusialah yang dirancang menjadi mahluk budaya, mata, telinga dan otaknya berbeda fungsi dengan yang dimiliki binatang. Kemampuan menanggapi, menyimpan dan menyajikan kembali informasi, ini membedakan manusia dengan binatang. Karena hanya dalam diri manusia itulah akan terjadi proses pertemuan alam dan budaya.

Sehingga alam semesta ini kongruen sama sebangun dengan Ilmu yang diturunkan sebagai wahyu kepada “manusia” dalam arti sama-sama ciptaan Tuhan. Sama sama turunan dari planning dan kerja yang satu mengujud menjadi produksi alam semesta termasuk manusia dan yang satu adalah turunan berupa guidance book untuk penataan dan manusialah yang mengemban tugas penataan atau tugas budaya itu. Manusia yang hidup berbudaya tanpa ajaran Tuhan itulah manusia sempurna bersatunya ciptaan Tuhan pasti alam dan budaya dalam satu kesadaran gerak budaya dan peradaban. Ibarat pertunjukan manusia adalah satu panggung dua pertunjukan yaitu pertunjukan alam dan sosial budaya sekaligus.

Kerja Ilmiah pada puncak proses yaitu penciptaan manusia, dimulai dengan penciptaan manusia pertama, hingga perulangan pada proses reproduksi biologis adalah pada satu teknologi yang sangat rumit. Berbagai sistem biologis, fisika, kimia berpadu dalam tubuh manusia meliputi sistem peredaran darah, sistem pernafasan, sistem kerangka tubuh dan persendian, sistem saraf, sistem kekebalan tubuh, sistem hormon dan reproduksi, sistem kesadaran dan memori dan bagai mana koneksi antara panca indera dengan otak dan hati lain-lain sistem, sehingga membuktikan manusia adalah mahluk mutakhir di atas bumi ini. Dan yang paling rumit dari itu semua adalah penggerak seluruh sistem itu yaitu ”ruh” yang mulai dimasukkan ke tubuh janin dalam rahim ibu pada usia kehamilan 4 x 40 hari dan apabila ”ruh” itu pergi atau tiada lagi, maka manusia bukanlah lagi menjadi manusia.

Betapa tidak tata surya diciptakan oleh Tuhan untuk menjaga kesetimbangan bumi, cahaya, suhu, gravitasi, curah hujan, angin sebagai tempat tinggal dan fasilitas hidup manusia. Dalam bumi laut, tanah, gunung, sungai, udara, sinar matahari dan malam bergantian semua untuk mensupport kehidupan manusia, bahkan air, aneka tumbuhan dan hewan untuk makanan konsumsi menjaga hidup tumbuh, kesehatan dan reproduksi. Namun diri manusia sendiri adalah alam dimana alam ini diciptakan yang paling puncak adalah diri manusia.   Manusia inilah yang kelak akan mengemban tugas sebagai ”khalifah” di muka bumi ini. Manusialah puncak proses penciptaan alam semesta raya ini. Namun penciptaan belum selesai dan belum sempurna, sebelum manusia menjadi ”khalifah” pengemban tugas budaya diberikan ”ruh pembangkit budaya”, yaitu wahyu sebagai ilmu dari Tuhanyang tentunya disampaikan estafet melalui perutusan Malaikat dan nabi-nabiNya. Dan para nabilah yang memerankan sebagai model kehidupan dari teori wahyu yang diturunkan Tuhan, yang dari situ manusia lain mencontoh memberlakukan hidupnya. Tanpa bentuk contoh akan sukar sekali terwujud dalam kenyataan hidup apa bagaimana teori hidup yang ditutunkan Tuhan.

Kemudian dilanjutkannya proses penciptaan dengan penurunan Ilmu, melalui penurunan kepada Malaikat kemudian kepada para nabi untuk menjadi pedoman atau ”guidance book” bagi manusia yang mau menata kehidupan budaya sesuai dengan misi ”kekhalifahan” , maka sempurna sudah proses penciptaan, tinggal langkah selanjutnya misi ”kekhalifahan” untuk mewujudkan ”visi wahyu” tersebut dalam kenyataan hidup yaitu proses penerapan ilmu ke dalam praktek laboratorium alam. Penurunan ilmu melalui wahyu sebagai alternatif gerak budaya dan peradaban, adalah menyanggah kekawatiran ”Malaikat” akan sifat dasar manusia, akan saling menumpahkan darah dan saling bunuh apabila dijadikan mahluk alternatif (boleh memilih). Tuhan Sang  Pencipta menyediakan Ilmu sebagai ide dan pola penataan dan pembinaan manusia untuk hidup sukses berbudaya. Ide dan pola inilah yang akan mengisi jalannya sejarah peradaban manusia yaitu disajikan dua pilihan ide dan pola oleh Tuhan melalui Ilmu yang diturunkan sebagai wahyu kepada para nabi bagi manusia yaitu ajaran untuk hidup benar yang di manifestasikan dalam hidup para nabi dan ajaran untuk hidup salah yang dipanggungkan oleh para pengikut setan sepanjang sejarah peradaban manusia.

Pada hakekat tidak ada manusia bisa mencipta ilmu, pada manusia hanya ada kemempuan memahami, meniru, mungkin menambahkan atau mengurangi sesuai dengan selera dalam proses akulturasi proses waris mewaris ilmu dari generasi ke generasi. Sehingga kalau ada manusia menyediakan ilmu (isme) ciptaanya untuk menata sesama manusia, itu adalah hanya merupakan penyelewengan visi dan misi kehidupan itu sendiri. Seolah mereka akan menggugat Ilmu Tuhan sebagai gagasan pokok, dikritisi tambah kurang, tambal sulam maka lahirlah teori ilmu dari hasil melihat alam merefleksikan naturalisme, dan dari hasil merenung mendeffectkan idealisme, salah satu yang polpuler sering kita dengar idealisme Plato. Sejatinya gugatan mereka itu, yang sudah lebih dahulu mendapat Ilmu dari Tuhan, namun berhati dengki, yaitu merehab ajaran untuk membikin bodoh manusia lain agar mudah dieksploitasi dalam penjajahan budaya dan peradaban.   Ilmu dari Tuhan mereka curi, mereka kentit dan mereka simpan untuk sendiri. Sementara teori-teori dan kitab suci bikinan tangan manusia mereka edar dengan lisensi ajaran Tuhan Sang Pencipta. Namun semua adalah pembodohan dan pemalsuan terhadap massal manusia sepanjang sejarah peradaban.

Manusia dalam mengatur manusia lain tidak bisa lepas dari pengaruh subjektifismenya, yaitu eksploitasi manusia dan bangsa lain, yang disebut penjajahan. Padahal setiap manusia dan bangsa punya hak yang sama terhadap ilmu dan sumber daya alam semesta ini, akan tetapi kenyataannya telah terjadi kelaparan dan pembunuhan atas manusia/bangsa lain dalam penjajahan dan penindasan. Bahkan tindakannya mengatasnamakan perdamaian, demokrasi, bahkan mengatasnamakan Tuhan (Gold, Glory and Gospel) dalam penjajahan Belanda yang 350 tahun. Penjajahan berbagai bangsa telah mengakibatkan kerusakan alam dan sistem sosial dunia. Kerusakan ini pada hakekatnya akibat lepasnya poros Ilmu, dari ilmu Tuhan Sang Pencipta kepada poros setan yag berjubah manusia. Poros setan yang telah membikin Adam tergelincir, namun kemudian segera menyadari kembali ke poros ajaran Sang Pencipta. Sejak peradaban Adam poros setan waris mewariskan hingga kini yang berwujud kerusakan global di langit dan di bumi, baik kerusakan sumber daya alam maupun kerusakan sosial budaya.

No comments:

Post a Comment