Sunday, February 17, 2013

Pencemaran Lingkungan di Area Pendakian Gunung

Kondisi sampah di area 'wisata' pendakian gunung memang sangat memprihatikan. Susah sekali memang menghimbau pendaki untuk tidak membuang sampah di gunung. Yang harus dilakukan mau tidak mau adalah menaikkan tiket masuk. Untuk saat sekarang, hal inilah satu-satunya hal yang bisa dilakukan karena kesadaran orang dalam bijak pada sampahnya masih sangat rendah.

Tiket masuk yang mahal mungkin bisa menjadi solusi untuk membatasi jumlah pendaki yang berlebihan dan yang hanya sekedar naik untuk 'keren-kerenan'. Dananya juga bisa membayar tenaga untuk membersihkan sampah. Namun juga menimbulkan hal dilematis. Karena setelah bayar mahal, mungkin ada sebagian yang merasa kemudian berhak untuk berlaku sesukanya, "Peduli amat, toh saya sudah bayar mahal", "Kan sudah ada tukang sampah yang akan mengurus", dan sebagainya. Lalu akhirnya gunung hanya akan menjadi 'milik' pendaki yang punya duit banyak. Pendaki dengan dana terbatas tapi mungkin benar-benar cinta alam jadi tak mampu masuk ke sana.

Namun, moral kebanyakan pendaki dalam hal 'sampah-menyampah' juga tak ada bedanya dengan masyarakat umum di 'bawah gunung', jadi mau bagaimana lagi. Memang pola pikir dan habit masyarakat yang tidak peduli lingkungan - bukan cuma penduduk lokal indonesia, namun juga turis asing alias penduduk dunia - ya, begitu itu. Maaf, terpaksa saya generalisir, karena pendidikan di sekolah bahkan di rumah juga jarang memberikan contoh yang baik terhadap cinta lingkungan dan kepedulian terhadap sampah yang notabene dihasilkan oleh dirinya sendiri. Selama konsep tentang kebersihan dan bagaimana memperlakukan sampah yang baik tidak tertanam di diri ya nggak bakalan kita akan melihat lingkungan yang sehat dan bersih. Sementara papan-papan larangan, himbauan, pemberitahuan hanya akan menjadi hal nonsens yang memperbodoh pikiran, dan malah menjadi sampah visual.

Anyway, saya akhirnya setuju bahwa UANG adalah 'jawaban segalanya'. Orang hanya menghormati uang, jadi ya terpaksa uang dijadikan raja. Salah satunya sebagai solusi di atas. Kalau perlu diberlakukan denda atau tilang bila pendaki tidak membawa turun sampahnya - dicek dari plastik sampah yang diberikan padanya. Atau pendaki ditarik 'simpanan uang sampah' yang cukup besar. Dengan catatan, dana ini 100% dikembalikan bila ia membawa turun sampah pribadinya.

Mungkin malah dibentuk saja sebuah koperasi atau bank sampah di desa awal pendakian yang menurut saya bisa menjadi tambahan penghasilan untuk desa atau karang taruna pengelola wisata pendakian. Jadi pendaki atau warga desa atau 'pemburu sampah' malah bisa mendapatkan tambahan penghasilan dari sampah di gunung yang ia angkut.


Seperti yang pernah saya tonton di sebuah acara travelling di channel berbayar, "Menjaga alam dengan konsep konservasi sekarang sulit diberdayakan. Orang baru akan menjaga lingkungan bila itu berhubungan dengan motif ekonomi. Baru mereka akan tergerak."

No comments:

Post a Comment