Kondisi sampah di area 'wisata' pendakian gunung memang sangat
memprihatikan. Susah sekali memang menghimbau pendaki untuk tidak
membuang sampah di gunung. Yang harus dilakukan mau tidak mau adalah
menaikkan tiket masuk. Untuk saat sekarang, hal inilah satu-satunya hal
yang bisa dilakukan karena kesadaran orang dalam bijak pada sampahnya
masih sangat rendah.
Tiket masuk yang mahal mungkin bisa menjadi solusi untuk membatasi jumlah pendaki yang berlebihan dan yang hanya sekedar
naik untuk 'keren-kerenan'. Dananya juga bisa membayar tenaga untuk
membersihkan sampah. Namun juga menimbulkan hal dilematis. Karena
setelah bayar mahal, mungkin ada sebagian yang merasa kemudian berhak
untuk berlaku sesukanya, "Peduli amat, toh saya sudah bayar mahal", "Kan
sudah ada tukang sampah yang akan mengurus", dan sebagainya. Lalu akhirnya gunung
hanya akan menjadi 'milik' pendaki yang punya duit banyak. Pendaki
dengan dana terbatas tapi mungkin benar-benar cinta alam jadi tak mampu
masuk ke sana.
Namun, moral
kebanyakan pendaki dalam hal 'sampah-menyampah' juga tak ada bedanya
dengan masyarakat umum di 'bawah gunung', jadi mau bagaimana lagi.
Memang pola pikir dan habit masyarakat yang tidak peduli lingkungan -
bukan cuma penduduk lokal indonesia, namun juga turis asing alias
penduduk dunia - ya, begitu itu. Maaf, terpaksa saya generalisir, karena
pendidikan di sekolah bahkan di rumah juga jarang memberikan contoh
yang baik terhadap cinta lingkungan dan kepedulian terhadap sampah yang
notabene dihasilkan oleh dirinya sendiri. Selama konsep tentang
kebersihan dan bagaimana memperlakukan sampah yang baik tidak tertanam
di diri ya nggak bakalan kita akan melihat lingkungan yang sehat dan
bersih. Sementara papan-papan larangan, himbauan, pemberitahuan hanya
akan menjadi hal nonsens yang memperbodoh pikiran, dan malah menjadi
sampah visual.
Anyway, saya akhirnya setuju bahwa UANG adalah
'jawaban segalanya'. Orang hanya menghormati uang, jadi ya terpaksa uang
dijadikan raja. Salah satunya sebagai solusi di atas. Kalau perlu
diberlakukan denda atau tilang bila pendaki tidak membawa turun
sampahnya - dicek dari plastik sampah yang diberikan padanya. Atau
pendaki ditarik 'simpanan uang sampah' yang cukup besar. Dengan catatan,
dana ini 100% dikembalikan bila ia membawa turun sampah pribadinya.
Mungkin malah dibentuk saja sebuah koperasi atau bank sampah di desa
awal pendakian yang menurut saya bisa menjadi tambahan penghasilan untuk
desa atau karang taruna pengelola wisata pendakian. Jadi pendaki atau
warga desa atau 'pemburu sampah' malah bisa mendapatkan tambahan
penghasilan dari sampah di gunung yang ia angkut.
Seperti yang
pernah saya tonton di sebuah acara travelling di channel berbayar,
"Menjaga alam dengan konsep konservasi sekarang sulit diberdayakan.
Orang baru akan menjaga lingkungan bila itu berhubungan dengan motif
ekonomi. Baru mereka akan tergerak."





No comments:
Post a Comment