Wednesday, November 14, 2012

A Nightmare

Lewat tengah malam ini saya terbangun dari mimpi yang meletihkan. Entah apakah payung berhubungan dengan hujan, kemudian UMBRELLA Corporation berkaitan dengan kisah zombie... Pun Alice dalam Resident Evil berburu zombie seperti mengejar kelinci putih dalam Alice in Wonderland. Tapi zombie-zombie dalam mimpi saya begitu cerdas. Aneh, seharusnya zombie sudah tak mampu berpikir. Mungkin yang ada dalam hasrat mereka hanya makan. Seperti sekian manusia yang hidup di dunia 'nyata' ini yang memilih untuk menjadi rakus.

Ada satu kisah di mimpi saya yang menggelitik, tentang pertemuan dengan bibi kantin yang menyiapkan makanan dengan santai padahal di sekeliling sedang dalam kepungan dan pertempuran dengan para mayat hidup itu.

"Makanlah, kau pasti lapar," katanya sambil menyodorkan sepiring ayam goreng hangat. Di dekat kami beberapa ayam sibuk makan di dalam kurungan. "Kau tahu," lanjutnya, "kita sama saja seperti mereka. Kita ini bagi zombie-zombie itu seperti ayam-ayam dalam kurungan itu. Rantai makanan adalah jalan yang harus kita lalui dalam hidup."

Bibi kantin itu layaknya Sang Oracle yang menerjemahkan kebingungan. Ketika seseorang duduk di meja makan lalu dengan sopan meminjam koran lawas, si bibi berkata, "Silahkan, kau bisa anggap itu bacaan. Informasi selalu berasal dari masa lalu, masa depan tak ada yang tahu. Dan terserah kau memilih untuk menganggap atau menjadikan apa informasi itu. Baru saja koran itu kujadikan alas gorengan".

Tak perlu saya ceritakan bagian-bagian mengerikan dan sadis dalam mimpi saya. Katanya mimpi buruk tak boleh diceritakan. Mimpi memang mengangkat bagian dari alam bawah sadar seseorang. Dan apabila dunia yang sedang kita alami ini tengah membuai dengan baris kode komputer streaming hijau yang terdiri dari untaian angka binary seperti Matrix, adalah pilihan untuk bangun atau tetap terpikat pada mimpi. Apakah manusia memanfaatkan teknologi ataukah sebenarnya tengah menjadi baterry cell bagi mesin. Apakah kita tengah menggunakan komputer untuk pekerjaan dan kesenangan kita ataukah sebenarnya komputer tengah memaksa kita untuk selalu bangun dan menghidupkannya, untuk memberikan energi kita sebagai nyawa mereka, karena dengan kita memencet tombol ON maka sebuah mesin akan hidup ? Apakah ini dilusi atau sebenarnya simulasi ?

Di akhir kisah trilogi The Matrix, Neo memang telah mengorbankan dirinya dengan merubah dirinya menjadi program gate yang bekerja mengawasi dan memastikan keseimbangan dunia matrix, bila ada manusia yang menemukan kesadaran akan dia lepaskan dari kungkungan kepompong matrix, bila tidak, ya akan terus menjadi baterai untuk dunia mesin. Program Neo bisa dikatakan menjaga keseimbangan bila ada serangan hacker/cracker ke dunia mesin dari para manusia, artinya manusia tidak bisa dengan mudah pluggin ke dunia matrix lagi.

Anggap saja kau sedang memandang keluar, saat deretan air hujan mulai menuruni atmosfir luar bagai barisan kode-kode hijau di antara pepohonan. Lalu bila kesadaran itu muncul, mana yang akan kau pilih ? Pil merah atau biru ? Saya sendiri belum bisa memutuskan. Dunia yang masih saya pegang ini masih sangat menarik.

No comments:

Post a Comment