Lewat tengah malam ini saya terbangun dari mimpi yang meletihkan.
Entah apakah payung berhubungan dengan hujan, kemudian UMBRELLA
Corporation berkaitan dengan kisah zombie... Pun Alice dalam Resident
Evil berburu zombie seperti mengejar kelinci putih dalam Alice in
Wonderland. Tapi zombie-zombie dalam mimpi saya begitu cerdas. Aneh,
seharusnya zombie sudah tak mampu berpikir. Mungkin yang ada dalam
hasrat mereka hanya makan. Seperti sekian manusia yang hidup di dunia
'nyata' ini yang memilih untuk menjadi rakus.
Ada satu kisah di
mimpi saya yang menggelitik, tentang pertemuan dengan bibi kantin yang
menyiapkan makanan dengan santai padahal di sekeliling sedang dalam
kepungan dan pertempuran dengan para mayat hidup itu.
"Makanlah,
kau pasti lapar," katanya sambil menyodorkan sepiring ayam goreng
hangat. Di dekat kami beberapa ayam sibuk makan di dalam kurungan. "Kau
tahu," lanjutnya, "kita sama saja seperti mereka. Kita ini bagi
zombie-zombie itu seperti ayam-ayam dalam kurungan itu. Rantai makanan
adalah jalan yang harus kita lalui dalam hidup."
Bibi kantin itu
layaknya Sang Oracle yang menerjemahkan kebingungan. Ketika seseorang
duduk di meja makan lalu dengan sopan meminjam koran lawas, si bibi
berkata, "Silahkan, kau bisa anggap itu bacaan. Informasi selalu berasal
dari masa lalu, masa depan tak ada yang tahu. Dan terserah kau memilih
untuk menganggap atau menjadikan apa informasi itu. Baru saja koran itu
kujadikan alas gorengan".
Tak perlu saya ceritakan bagian-bagian
mengerikan dan sadis dalam mimpi saya. Katanya mimpi buruk tak boleh
diceritakan. Mimpi memang mengangkat bagian dari alam bawah sadar
seseorang. Dan apabila dunia yang sedang kita alami ini tengah membuai
dengan baris kode komputer streaming hijau yang terdiri dari untaian
angka binary seperti Matrix, adalah pilihan untuk bangun atau tetap
terpikat pada mimpi. Apakah manusia memanfaatkan teknologi ataukah
sebenarnya tengah menjadi baterry cell bagi mesin. Apakah kita tengah
menggunakan komputer untuk pekerjaan dan kesenangan kita ataukah
sebenarnya komputer tengah memaksa kita untuk selalu bangun dan
menghidupkannya, untuk memberikan energi kita sebagai nyawa mereka,
karena dengan kita memencet tombol ON maka sebuah mesin akan hidup ?
Apakah ini dilusi atau sebenarnya simulasi ?
Di akhir kisah
trilogi The Matrix, Neo memang telah mengorbankan dirinya dengan merubah
dirinya menjadi program gate yang bekerja mengawasi dan memastikan
keseimbangan dunia matrix, bila ada manusia yang menemukan kesadaran
akan dia lepaskan dari kungkungan kepompong matrix, bila tidak, ya akan
terus menjadi baterai untuk dunia mesin. Program Neo bisa dikatakan
menjaga keseimbangan bila ada serangan hacker/cracker ke dunia mesin
dari para manusia, artinya manusia tidak bisa dengan mudah pluggin ke
dunia matrix lagi.
Anggap saja kau sedang memandang keluar, saat
deretan air hujan mulai menuruni atmosfir luar bagai barisan kode-kode
hijau di antara pepohonan. Lalu bila kesadaran itu muncul, mana yang
akan kau pilih ? Pil merah atau biru ? Saya sendiri belum bisa
memutuskan. Dunia yang masih saya pegang ini masih sangat menarik.
No comments:
Post a Comment