Sunday, October 27, 2013

Hujan Yang Turun Padamu

"If you think it's going to rain, it will."
[ Clint Eastwood ]

* * *

Hujan tak lagi terindera. Datang seperti cumbu yang enggan. Semalaman hanya kuyup karena keringat panas. Semua berubah ritme. Mungkin kemarau masih tak ingin putus denganku.

Hari-hari hanya ciptaan ilusi mendung yang menipu. Langit biru dihinggapi rombongan burung yang panik pada jadwal migrasi yang berantakan. Semua hanya sekedar alasan beranak pinak. Meneruskan garis keturunan. Entah untuk masa depan yang mana. Dahaga masih menjadi kekayaan kerontang tanah yang retak terpecah belah. Tanda-tanda telah buyar. Bahkan hadirmu kapan pun ku tak tahu tibanya.

Aku ingin membalas dendam, membungkam suara hujan ke dalam lubang-lubang tanah. Lalu bersuka ria dengan daun-daun yang siap membungkus keheningan. Mengisi pita suara dengan suara kencang kodok melawan tonggerek yang bersahut-sahutan. Membiarkan orang-orang mengira itu guntur salah masa. Inilah kemarau hujan.

Begitulah. Hujan sekedar numpang lewat dengan kunjungannya yang kadang-kadang. Sambil lalu, seperti gadis kembang desa yang menggoda jejaka-jejaka kampung di pos ronda. Membuat insting hewan mereka merona kebakaran. Berebut perhatian yang tak kan dibalas.

Tapi embun tak lagi dapat disesap pagi hari. Hanya sesekali gutasi yang menetes dari ujung-ujung rumput yang lembut. Ranggas masih bertahap tergantikan rimbun. Masih lama sampai Semua siklus terus berulang. Mencipta serasah yang menggunung di atas tanah.

Coba kau ingat lagi. Musim ini, musim keberapa kita berusaha mencari jalan yang berlainan? Di kejauhan kita tahu telah saling menatap. Di persimpangan, aku dan kamu tak pernah berbelok di arah yang sama. Bahkan ketika di gang buntu, punggung menjadi saksi. Tanpa tatap dengan segala kesibukan pura-pura. Perhatian yang disembunyikan di sudut-sudut mata. Sesekali.

Apa yang sebenarnya kita takuti? Perasaan saling menyakiti? Perbincangan mengenai hati? Atau justru yang kita hindari hanyalah serangkaian basa basi? Sudah berapa ruang waktu kita begini? Mencampakan rasa yang disisakan kesibukan hari. Membenamkan hati pada kubangan tanpa penyelesaian. Tidak mau mengalah pada apa kata takdir.

Permainan saling bersembunyi ini hanya membuat kita seperti bermain komedi putar. Berputar-putar di lintasan yang sama tanpa beranjak kemana-mana. Aku bosan pada rasa takut ini. Semoga kamu pun demikian.

Aku tak lagi tahu sekarang musim apa. Tapi ini musim kesekian kita saling bersembunyi. Kenapa di masa yang waktunya masih panjang ini kita tidak duduk bersama. Berbicara atau tidak, terserah dirimu. Bukan, bukan tentang untuk membuka lembaran baru, itu kata yang aneh menurutku. Hidup itu bukan sebuah buku, tapi satu lembar kisah panjang. Tidak ada salahnya untuk menyingkirkan sesaat rasa khawatir itu, kalaupun nanti ia kembali, tak masalah. Kita nikmati saja kenangan yang pernah bersama.

Sini duduklah dekatku. Kita nikmati burung-burung bingung itu sambil menanti hujan dari langit yang sama. Kita tidak perlu berbicang bila kau tak ingin. TIdak perlu saling berpegangan tangan bila kau resah. Cukup dekat saja untuk tahu bahwa kita tengah bersama. Mungkin kita akan bersepakat, hening ini adalah bahasa kita yang baru.

No comments:

Post a Comment