"If you think it's going to rain, it will."
[ Clint Eastwood ]
* * *
Hujan tak lagi terindera. Datang seperti cumbu yang enggan. Semalaman
hanya kuyup karena keringat panas. Semua berubah ritme. Mungkin kemarau
masih tak ingin putus denganku.
Hari-hari hanya ciptaan ilusi
mendung yang menipu. Langit biru dihinggapi rombongan burung yang panik
pada jadwal migrasi yang berantakan. Semua hanya sekedar alasan beranak
pinak. Meneruskan garis keturunan. Entah untuk masa depan yang mana.
Dahaga masih menjadi kekayaan kerontang tanah yang retak terpecah belah.
Tanda-tanda telah buyar. Bahkan hadirmu kapan pun ku tak tahu tibanya.
Aku ingin membalas dendam, membungkam suara hujan ke dalam
lubang-lubang tanah. Lalu bersuka ria dengan daun-daun yang siap
membungkus keheningan. Mengisi pita suara dengan suara kencang kodok
melawan tonggerek yang bersahut-sahutan. Membiarkan orang-orang mengira
itu guntur salah masa. Inilah kemarau hujan.
Begitulah. Hujan
sekedar numpang lewat dengan kunjungannya yang kadang-kadang. Sambil
lalu, seperti gadis kembang desa yang menggoda jejaka-jejaka kampung di
pos ronda. Membuat insting hewan mereka merona kebakaran. Berebut
perhatian yang tak kan dibalas.
Tapi embun tak lagi dapat
disesap pagi hari. Hanya sesekali gutasi yang menetes dari ujung-ujung
rumput yang lembut. Ranggas masih bertahap tergantikan rimbun. Masih
lama sampai Semua siklus terus berulang. Mencipta serasah yang
menggunung di atas tanah.
Coba kau ingat lagi. Musim ini, musim
keberapa kita berusaha mencari jalan yang berlainan? Di kejauhan kita
tahu telah saling menatap. Di persimpangan, aku dan kamu tak pernah
berbelok di arah yang sama. Bahkan ketika di gang buntu, punggung
menjadi saksi. Tanpa tatap dengan segala kesibukan pura-pura. Perhatian
yang disembunyikan di sudut-sudut mata. Sesekali.
Apa yang
sebenarnya kita takuti? Perasaan saling menyakiti? Perbincangan mengenai
hati? Atau justru yang kita hindari hanyalah serangkaian basa basi?
Sudah berapa ruang waktu kita begini? Mencampakan rasa yang disisakan
kesibukan hari. Membenamkan hati pada kubangan tanpa penyelesaian. Tidak
mau mengalah pada apa kata takdir.
Permainan saling bersembunyi
ini hanya membuat kita seperti bermain komedi putar. Berputar-putar di
lintasan yang sama tanpa beranjak kemana-mana. Aku bosan pada rasa takut
ini. Semoga kamu pun demikian.
Aku tak lagi tahu sekarang musim
apa. Tapi ini musim kesekian kita saling bersembunyi. Kenapa di masa
yang waktunya masih panjang ini kita tidak duduk bersama. Berbicara atau
tidak, terserah dirimu. Bukan, bukan tentang untuk membuka lembaran
baru, itu kata yang aneh menurutku. Hidup itu bukan sebuah buku, tapi
satu lembar kisah panjang. Tidak ada salahnya untuk menyingkirkan sesaat
rasa khawatir itu, kalaupun nanti ia kembali, tak masalah. Kita nikmati
saja kenangan yang pernah bersama.
Sini duduklah dekatku. Kita
nikmati burung-burung bingung itu sambil menanti hujan dari langit yang
sama. Kita tidak perlu berbicang bila kau tak ingin. TIdak perlu saling
berpegangan tangan bila kau resah. Cukup dekat saja untuk tahu bahwa
kita tengah bersama. Mungkin kita akan bersepakat, hening ini adalah
bahasa kita yang baru.
No comments:
Post a Comment