Bagi ummat Islam, Al-Quran adalah petunjuk hidup. Seluruh waktu manusia adalah hidupnya. Sehingga, Al-Quran menjadi pedoman abadi yang tidak bisa ditinggalkan. Jika Anda banyak melihat kekacauan, kesengsaraan, dan kehancuran di bumi ini, maka Anda tentu juga akan melihat penyebab dari semua itu. Perbuatan manusia. Penyebab semua kekacauan hidup adalah perbuatan tidak baik manusia. Tidak setiap manusia bertindak buruk. Masih ada manusia yang berbuat baik. Tapi satu perbuatan buruk manusia adalah buruk bagi seluruh manusia. Begitu juga sebaliknya, satu perbuatan baik adalah berakibat baik bagi seluruh manusia.
Tidak seorang pun pernah mengatakan Al-Quran adalah buruk. Setiap muslim mengakui Al-Quran sebagai petunjuk hidupnya. Tapi lihatlah negeri ini. Negeri berpenduduk mayoritas muslim ini menjadi negeri yang terpuruk dalam kriminalitas, korupsi, kebodohan dan bencana. Di sela waktu Anda, mari kita lihat bersama kesalahan kita dalam hidup. Sudahkah muslim Indonesia menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidupnya. Sebelum itu, sudahkan ummat muslim di Indonesia memahami Al-Quran dengan benar? Untuk melaksanakan isi yang terkandung dalam Al-Quran menjadi alat wajib bagi ummat Islam mempelajari teori makna dan pembentukan kata dalam Bahasa Al-Qur'an atau yang disebut jebolan pesantren dengan Nahu Sharaf.
Dunia mengenal beberapa agama yang berkembang menjadi besar di zaman dahulu hingga sekarang. Dua di antaranya adalah Nasrani dan Islam. Keduanya muncul dan berkembang pertama kali di Asia Barat, yaitu pada bangsa Yahudi dan Arab. Karenanya, bahasa rumpun wilayah ini merupakan bahasa penulisan kedua kitab suci ini. Bahasa awal kedua kitab suci ini adalah bahasa wahyu. Injil pertama kali diturunkan dalam bahasa wahyu. Baru kemudian, Injil (perjanjian lama dan perjanjian baru) dituliskan ke dalam satu kitab, Bible. Dan Bible akhirnya secara keseluruhan diterjemahkan ke dalam Hebrew dan bahasa Latin serta bahasa-bahasa lain di dunia.
Al-Quran, sampai saat ini masih ditulis dalam bahasa aslinya, bahasa Arab. Bahasa Arab sendiri, saat ini berbeda dengan bahasa Arab kuno di masa Muhammad. Dan Muhammad saw adalah seorang suku bangsa Quraish yang berdarah Babylonia. Sama dengan garis keturunan Ibrahim as. Bangsa Quraish dikenal sebagai bangsa yang bersastra tinggi. Quraish tercatat sebagai satu-satunya suku bangsa yang masih memegang teguh bahasa wahyu.
Bahasa wahyu, bahasa yang ada di dalam Al-Quran menjadi harapan bagi umat Islam dan Nasrani untuk menjaga keontetikan kedua kitab suci ini. Apalagi kitab Bible, tidak satu orang pun kini yang native berbahasa Hebrew kuno. Bahasa Quran adalah satu-satunya harapan untuk memaknai Bible yang dulunya berasal dari Injil. Bahasa Hebrew dan bahasa Arab adalah bahasa satu rumpun, semitic languages, dengan dialek yang berbeda. Tidak hidupnya bahasa Hebrew saat ini, memunculkan masalah mendalam bagi umat Kristen dalam mengkaji Bible. Dan hermeneutika lahir sebagai akibat kesulitan bahasa ini.
Ketidakpahaman umat Islam pada bahasa Quran, memunculkan resiko terseretnya umat Islam dalam daya tarik hermeneutika. Hermeneutika bukanlah alat bantu bagi muslim untuk memahami Quran, yang jelas-jelas bermakna gamblang.
وماعلمنه الشعروماينبغي له ان هوالاذكروقران مبين
Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan tidaklah pantas baginya, Quran tidak lain adalah pelajaran dan bacaan yang gamblang.
Dunia mengakui bahwa Al-Quran yang ada saat ini adalah Al-Quran yang sama dengan Al-Quran yang dipegang Muhammad saw. Jika seluruh ummat Islam menguasai bahasa Al-Quran, tidak akan terjadi pemaknaan dan penafsiran yang sangat beragam dan saling jauh berbeda. Tidak seharusnya ada textual criticism dalam membaca Al-Quran. Tidak mungkin tidak. Penguasaan bahasa Al-Quran menjadi mutlak diperlukan bagi ummat Islam.

No comments:
Post a Comment