Friday, September 25, 2015

Bunuh Binatang Sebagai Perlambang Untuk Perbaikan Bangsa

Seiring dengan matinya hewan-hewan kemarin. Bau amis darah, hamparan tulang-belulang, rintihan menuju kematian. Memiliki nilai filosofi yang indah. Hewan yang disembelih dan mati memiliki perlambang bahwa nafsu hewani yang ada dalam alam pikiran bangsa harus disembelih dengan satu orientasi berpikir baru yang berstandar dengan cita-cita bangsa kita yaitu, nilai luhur UUD 1945 dan didorong keinginan luhur para pendukungnya. Kata Sigmund Freud kecenderungan manusia ada 3 faktor yaitu, perut, atas perut, dan bawah perut.

Perut : Kepastian ekonomi atau kebebasan finansial kata Robert.T Kiyosaki
Atas perut : Jabatan, kekuasaan, eksistensi, popularitas, nama baik, titel, gelar, mobil mewah, rumah elit, dll
Bawah perut : Dorongan seksuil yang menjadikan raja kawin sebagai Sang Subyek
Kongruen dengan pepatah kuno bangsa kita yaitu, harta, tahta dan wanita.

Jika kita dalam kehidupan masih menjadikan 3 kecenderungan di atas sebagai panglima hidup maka secara fisik manusia, namun secara alam pikiran dan kebudayaan statusnya adalah BINATANG. Harus disembelih mental anak jajahan dari alam pikiran bangsa. Harus dibunuh pembodohan massal yang dibudayakan dengan pendidikan yang matrealistis, dengan menerapkan pendidikan gratis yang motifnya mencerdaskan kehidupan bangsa. Harus dimatikan segala bentuk penjajahan pola pikir dan ekonomi yang menyebabkan bangsa kita kehilangan jati dirinya dan hanya bisa manggut-manggut di dikte oleh asing. Harus dilumpuhkan segala bentuk berpikir matrealisme, konsumerisme, individualisme. Lalu tancapkan di tanah yang subur ini nilai berkebangsaan laksana satu keluarga, yang menjadikan satu sama lain saling bertanggung jawab, saling perduli, saling membantu, saling memenuhi harapan kemanusiaan.

Tak ada lagi orang yang kenyang yang ngoroknya sampai 7 oktaf padahal disampingnya ada tangisan seorang ibu yang tak bisa menyusui anaknya karena miskin. Tak ada lagi para kaum penimbun uang pameran berlian di negeri yang mayoritas rakyatnya frustasi “besok mau makan apa?” lalu membuat mereka berfikir “besok mau makan siapa?”, karena desakan kemiskinan permanen. Berubah menjadi perasaan hati tak tenang, gelisah, gundah jika masih ada segolongan manusia masih merintih lapar sedangkan mereka berfoya-foya akan tetapi merasa terbeban dan terpanggil untuk membantu sesamanya karena rasa tanggung jawab sosial untuk membantu sesama. Jangan kita dipusingkan dengan persaingan tanpa batas yang orientasinya eksistensi, kekayaan, popularitas, nama baik, titel dan sebagainya dengan cara menyingkirkan pesaing. Dengan cara menghancurkan, melumpuhkan bahkan melenyapkan manusia lain dari medan persaingan.

Apabila motivasi dalam mencapai tujuan sudah salah maka gerak akan salah pula. Motivasi yang demikian sudah keluar dari koridor cita-cita bangsa. Jika mau dilegalisasikan hal itu maka mutlak harus dicabut pancasila dan UUD 1945. Tapi perlu diingat dalam membunuh diperlukan pisau atau alat lainya yaitu, pendidikan yang mampu mentransformasi gagasan cita-cita bangsa sehingga membentuk karakter manusia yang sesuai dengan tujuan dari gagasan. Suatu pendidikan yang mencerdaskan bangsa yang benar-benar mampu menjadi motor penggerak hancurnya segala macam eksploitasi manusia atas manusia. Sesuai tujuan berdirinya bangsa ini. Maka marilah kita sembelih perikebinatangan kita sebagai bangsa. Sifat kerbau yang pemalas dan tunduk pada ketidakadilan. Sifat kambing yang hanya bisa mengeluh “emmbeeee” ketika ada musuh mereka lari (pengecut). Sifat sapi yang mau dieksploitasi kemaluannya guna diambil susunya yang seharusnya menjadi hak anak sapi untuk menguntungkan si pemilik sapi, sedangkan anak sapi tak mendapat hak atas susu ibunya.

Apa bedanya kaum pekerja sekarang dengan binatang? Binatang diberi makanan secukupnya. Pekerja diberi gaji sesuai UMR yang terkadang tidak mencukupi. Binatang ada jaminan kesehatan jika sakit seperti diberi vitamin dan obat jika sakit. Pekerja diberi jamsostek jika sakit dll. Binatang hidupnya digadaikan untuk memakmurkan majikanya. Pekerja hidupnya digantungkan untuk memperkaya owner perusahaan. Karena mencari kerja susah, tak ada modal untuk usaha mandiri. Maka dengan terpaksa mereka menjual tenaganya degan upah yang sedikit “daripada gua gak makan” kata-kata yang biasanya diucapkan para pekerja yang frustasi. Oleh karena itu alangkah lebih baik jika perekehidupan seperti sistem kerja tubuh apabila kaki terinjak paku, mulut dengan spontan berteriak, mata meneteskan air mata, hidung berair, kening mengkerut, jantung berdebar, bahkan sampai badan panas-dingin.

Apabila satu golongan dalam bangsa ini sakit baik fisik maupun mental maka golongan lain spontanitas membantu tanpa pamrih agar luka golongan yang sakit bisa sembuh. Agar terjadi kehidupan yang harmonis berdasarkan atas berkat rahmat Allah dan didorong keinginan luhur. Lalu terwujud satu pemerintahan yang dimana para pemimpin adalah pelayan rakyat. Jika rakyatnya makan tahu tempe maka pemimpin harus makan nasi aking. Kekuasaan dan jabatan adalah lahan untuk beramal dan mewujudkan kesejahteraan rakyat. Ukuran kesuksesan bukan kekayaan dan jabatan lagi tapi bagaimana mewujudkan teori ke dalam kenyataan sosial. Karena pandangan berpikir atas dasar yang sama yaitu, cita-cita proklamasi 1945. Maka keinginan rakyat sejalan dengan keinginan para wakil-wakil rakyat di pemerintahan. Sehingga terwujudnya satu bangsa yang harmonis karena memiliki jati diri yang kokoh.

(*) Semoga tulisan ini bisa menjadi renungan bagi kita semua bukan sarana untuk diperdebatkan. Jika ada hal-hal yang keliru saya mohon maaf. Tak lain hanya ingin menyuarakan suara hati yang terkurung di goa nalar pikiran yang semu, yang terkikis oleh sistem yang kompleks.

No comments:

Post a Comment