ya, aku masih ingat jalan pulang
pulangku tidak seperti Odysseus pada tanah Ithaca
tanah kelahiran, anggur dan roti yang lezat, serta Penelope dan Telemachus
Kemudiku gila pada rasa tak terjelaskan yang terkirim tanpa alamat
ketika itulah aku mengerti akan mula dari gerimis
tumpah menyergap seluruh
aku basah meruah kata
rinduku adalah pada tapak dini hari saat basah berembun
intim dalam mantra rasa haus
pohon flamboyan di depan halaman bergoyang renta
sebelum gerimis kita punya janji, tanpa isyarat
esok atau lusa, atau entah kapan, merenggut penyatuan
istana debu telah terbangun
hantu kemarau melayang pada daun-daun kering
meranggaskan perasaan di kolam-kolam ingatan
setiap jarakku selalu berakhir pada pertanyaan
apa kabar musim hujan di tatapmu?
kau tahu tentang gelisah lelangit saat ini?
masihkah kau kosong?
ruhku lahir telanjang
hanya menuntut raga untuk sekedar mencicip fana
jalan hanya bisa ditempuh dengan perjalanan
berteriak pada tanya yang tak pernah usai
lintasan waktu semakin pekat
di setiap gundukan hati
berandamu ramai tamu
lampu yang berkerlip
tawa dan pikir yang tak pernah usai
tapi aku tak pernah tahu isi cangkirmu
yang kau letakkan di atas meja tanpa pernah kau sesap
untuk siapakah?
kembali menatapmu dari balik jendela
dekat dan jauh berebut tempat keniscayaan
lalu pilu menghantar kesadaran yang menggelombang
aku selusuh mimpi yang kabur
menyesali perjalanan yang tak kuasa menghilangkan rasa cinta
padamu
ya, aku sudah pulang
No comments:
Post a Comment