Seringkali kita tidak bisa menebak seberapa kesepiannya orang yang
sedang kita ajak bicara. Kita melihat tawanya saat mendengar kisah
kenangan yang tak henti kita sampaikan. Lalu menjabat tangannya yang
hangat saat berpisah, mengira ia sebahagia burung di langit.
Tapi,
begitulah. Ada seseorang yang tengah kesepian. Yang cintanya tanpa
kunjungan. Suara kosong di gagang telepon. Dan kata-kata yang tak
terkirim.
Kesedihannya ia rayakan sendiri. Dalam pesta keheningan nun jauh di alam bawah sadar. Perasaan dan emosi yang tak pernah ia bagi dengan siapa pun.
Karena ia sadar, tidak semua orang memiliki empati dan kepedulian untuk
mengerti bahwa orang yang berada di hadapannya tidak memiliki
kebahagiaan yang sama. Ketidakpedulian itu seperti ego yang tertanam
bagai akar ilalang. Dimana itu bisa salah satu dari kita. Bisa kamu,
atau aku.
Tapi luar biasanya, selalu saja ada orang yang begitu
memiliki kesabaran untuk mendengarkan. Yah, itu pun bisa salah satu dari
kita. Bisa kamu, atau aku.
No comments:
Post a Comment