[ please follow the link and listen to the song while reading this story ]
Saat aku melangkah, dan menatap nanar sekitar, rasa ini semakin menghantui ... Inikah gelisah ?
Saat kupejamkan mata, dan ingin kutangiskan perasaan dari dalam hatiku ... Inikah khawatir ?
Saat kupuja galau dalam setiap lintasan pikiran ... Inikah bingung ?
Saat detik berlalu, dan kubuka mata, lalu hatiku bergetar ... Inikah takdir ?
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Setiap kali aku menanti di tepian pantai yang menampilkan kabut di
ujung dermaga, aku mulai takut. Ingin kupalingkan topeng yang
menyelimuti langkahku, tapi serasa lunglai tubuhku di tepian ragu ini.
Entah sudah berapa banyak tanda tanya kusampirkan pada halimun yang
turun dari atas bukit menjelang senja. Tapi hanya sayup-sayup kudengar
jawaban angin yang memeluk harapan. Kutatap sang langit yang berbalut
cahaya lembayung ungu, sangat berharap aku tidak sendiri saat ini.
Pada guratan ombak yang menyentuh pasir, seekor kepiting kecil bergerak
perlahan. Ku teringat sentuhan tanganmu, dan kerling bintang dimatamu.
Seorang kekasih yang lima belas tahun tak kembali, tapi masih menyisakan
kenangan serupa burung merpati putih yang melayang di atas awan. Begitu
lembut dan penuh kasih. Sekelebat halusinasi menyembul di benakku.
Kerinduan lima belas tahun. Kesetiaan yang mungkin akan dianggap bodoh
bagi banyak orang. Tapi tidak bagiku. Ini adalah bukti seberapa besar
aku mencintaimu. Bukan bukti pada orang-orang itu, bukan juga bagimu,
tapi untukku. Tentang kekuatanku menahan terpaan ujian rayuan mereka
yang hanya menginginkan tubuhku dan bukan hatiku.
Kau tahu,
banyak lelaki tampan yang tergila-gila padaku. Itu sudah menjadikan
aku menyadari bahwa memang mereka hanya memuja tubuhku. Sedang kau, kau
hanya bilang, "Maaf aku tak berani mencintaimu. Kau terlalu sempurna
untukku."
Bagaimana cara kita mencintai kekasih kita itu
sepenuhnya adalah urusan pribadi. Tak ada yang lebih konyol selain
membandingkan antara cinta kita dengan cinta milik orang lain. Tapi
apakah cinta pada seorang kekasih gelap lebih menakjubkan dibanding
kekasih biasa ? Aku tidak tahu.
Sebuah jawaban "iya" tentunya
akan menyakiti hati. Keberanian memperturutkan hasrat dan melanggar
nilai-nilai tidaklah selalu merupakan penanda akan besarnya cinta. Namun
jawaban "tidak" rasanya juga akan mendapat tanggapan "memangnya kau
tinggal di dunia yang mana ?". Cinta yang besar, hingga merebut tempat
dan kedudukan pikiran, sangat dekat dengan kebodohan dan kegilaan. Dan
ketahuilah bahwa ada saat-saat tertentu ketika kebodohan dan kegilaan
terasa sangat heroik.
Mencintai dengan sangat intens atau pun
mencintai sampai pada taraf, berharap seandainya bisa "tidak mencintai
siapapun", adalah sebuah pengalaman pribadi yang sangat mendalam dimana
kebodohan dan kegilaan bercampur dengan keindahan seperti adegan dalam
drama. Kenyataan bahwa tidak semua orang mengalami drama itu adalah
sebuah pemicu yang lain kenapa sosok kekasih, baik yang terang maupun
yang gelap, menjadi seperti teman imajiner dari anak tunggal yang
kesepian.
Yah, kekasih gelap. Kau adalah kekasih gelapku. Selama
ini tak seorang pun mengetahui perasaanku ini, tidak juga kau. Sejak kau
katakan hal tentang kesempurnaanku itu, sejak itu pula kau menghilang.
Tak ada kabar sepenggal kata. Hanya sepotong kisah bahwa kau pergi
melanglang buana, menyeberangi samudera, menjelajah benua, menapaki
puncak-puncak tertinggi. Mengabdikan diri pada anak-anak dunia yang
diterpa nestapa. Tak menyadari bahwa semenjak kau pergi, nestapaku
adalah keruntuhan dunia.
Dulu percakapanmu selalu mengisi tempat
kosong di benakku. Kala aku tak punya jawaban, kau selalu punya jawaban.
Bahkan bila kau tidak tahu pun, itu serasa jawaban yang sangat pas
bagiku. Sebenarnya kau tak banyak bicara. Lebih banyak tersenyum saat
mendengarkan ceritaku. Tentu saja aku berusaha menciptakan banyak cerita
agar aku punya alasan menatap binar semangat di matamu. Tapi entah
kenapa waktu itu aku tidak menyadari kenapa kulakukan itu. Yang kutahu
aku jadi senang membaca untuk bisa menceritakan kembali padamu. Dan aku
senang saat melihat ekspresimu yang berubah-ubah pada perbincangan kita.
Satu hal yang selalu membuatku terkenang padamu adalah kegiatan kita
membantu "Kelahiran Anak Dunia", demikian kau menyebutkan kesibukan kita
yang bisa terbilang aneh itu. Menumbuhkan bibit pohon dan perjalanan
kita menanam calon-calon penghijau alam di tepi jalan setiap minggu itu
laksana kisah negeri dongeng, dan kau adalah peri hutannya.
Cita-citamu waktu itu adalah "satu hari kutanam satu pohon". Maka setiap
minggu kita membawa dua set "Anak Dunia", masing-masing berisi tujuh
bibit, milikku dan milikmu. Kemudian kita mencari tepi jalan yang tandus
tanpa pohon. Mungkin pengendara kendaraan akan melihat itu sebagai
keanehan di siang bolong. Dua orang tertawa-tawa dalam panas hari,
menancapkan bibit tanaman di tepi jalan, memberinya pagar kecil dari
bilah bambu, kemudian menyirami pohon kecil itu dengan sebotol air.
Lalu, mengheningkan cipta dan mendoakan kelahirannya dengan adzan serta
beberapa ayat suci Al Qur’an, layaknya kelahiran bayi.
Aneh?
Bagiku begitu awalnya, tapi setelah beberapa minggu. Aku mengagumimu.
Itu adalah usahamu sebagai manusia lemah yang tak memiliki kemampuan
apa-apa tapi memiliki keinginan bermanfaat bagi dunia, dibandingkan
dengan tidak melakukan apa-apa sama sekali atau hanya menyalahkan iklim
yang tak jelas kondisinya. Dan saat kita berdoa agar para "Anak Dunia"
itu dapat tumbuh dan dilindungi oleh-Nya, itu begitu indah. Itulah kau.
Dan setiap kau baca bait ayat suci itu pada setiap pohon, aura cantikmu
semakin nyata.
Enam bulan tepat kita menyusuri jalan di kota ini
setiap minggu. Ketika suatu hari kau bilang, "Masih ingat waktu aku
bilang akan mendaftar sebuah proyek pelestarian alam? Ini jawaban
mereka," katamu sambil menyodorkan sebuah print out flyer dan surat
elektronik tentang perekrutan anggota sebuah organisasi internasional.
Sebenarnya aku tak terlalu ingat hal itu, karena kupikir kau tak
serius. Aku pikir kau tak punya keberanian sejauh itu. Tapi kalimatmu
selanjutnya langsung membuatku terhenyak. "Aku berangkat bulan depan
setelah wisuda, ke Canada. Mungkin selama dua tahun di sana, tiga tahun
berikutnya aku ke Afrika.
Awalnya aku masih bersikap biasa
setelah pemberitahuan itu. Namun dua minggu menjelang keberangkatanmu,
kemarahan menyeruak di dadaku. Dan aku menolak berjumpa, tentu saja
dengan alasan-alasan yang kubuat-buat dan kutitipkan pada siapa pun yang
mungkin akan kautanyai. Entah mengapa kemarahan itu meluap dari hatiku,
aku pun tak tahu. Yang kutahu saat itu adalah segala rasa takut,
khawatir, bingung, kehilangan dan gelisah teraduk-aduk di telaga
batinku.
Bahkan sampai akhirnya keberangkatanmu aku tak sudi
muncul untuk mengantarkanmu, sebagai seorang sahabat yang seharusnya
menemani dan memberikan semangat. Aku malah menghabiskan waktu dengan
kegiatan pemanjatan tebing pembuatan jalur baru di Sulawesi. Semua itu
mungkin lebih kulakukan untuk tak memikirkan akan sebuah asa yang pergi.
Sampai akhirnya kuterima sepucuk surat dari temanku saat ku kembali ke
rumah, berisi permohonan maaf tak sempat berpisah, ah, seakan itu adalah
kesalahanmu, dan kalimat, "Maaf aku tak berani mencintaimu. Kau terlalu
sempurna untukku."
Hari itu aku bagai ditampar seribu
halilintar. Seharusnya rasaku dan rasamu sempat disatukan sebelum itu.
Tapi entah mengapa aku tak berusaha melihat lebih jauh. Aku hanya merasa
bahwa kita masih punya waktu yang panjang untuk bersama sampai rasa itu
makin jelas.
Sampai bertahun-tahun kemudian aku tak tahu
kabarmu lagi. Selain karena lokasimu adalah daerah terpencil yang sulit
dijangkau segala alat komunikasi, kau pun tak pernah kembali ke
Indonesia, bahkan setelah lima tahun lewat dari kontrak proyekmu.
Sebagai anak yatim-piatu tanpa saudara, selama ini kau menghidupi diri
sendiri. Kau seperti burung merpati pembawa kedamaian yang bebas terbang
kemana pun tanpa beban di sayapmu
Dan aku, entah kenapa sejak
hari itu aku tak pernah bisa melihat laki-laki lain lebih sempurna
darimu untuk bersanding denganku. Aku sudah mencapai tahap "tidak
mencintai siapapun". Jadi kulalui hari-hari sepanjang tahun dengan
segala kegiatan petualangan gila-gilaan. Sebagai kegiatan penghilang
gelisah atau mungkin harapan pada sepotong jalan yang tanpa disangka
akan mempertemukan kau dan aku
Akhirnya lima tahun sudah.
Dan satu bulan lalu, sebuah invite di akun facebook-ku berisi nama dan
wajahmu muncul. Raut wajahmu nyaris tak berubah, masih sama seperti
seperti dulu sebelum kau pergi, hanya lebih dewasa dan senyummu nampak
menyenangkan. Rasa itu muncul kembali. Obrolan yang kunanti selama ini
telah kembali. Dan sebulan ini aku selalu tak sabar untuk menanti jadwal
chat kita, berbagi kisah petualangan kita. Bahkan kabar berikutnya
bahwa kau akan kembali ke Indonesia dalam waktu sebulan ini benar-benar
membuatku berteriak kencang di depan monitor laptopku
Proyek
internasionalmu kali ini ternyata adalah untuk mencapai Papua, tentang
penelitian kebudayaan di sana bersama sebuah yayasan internasional
pemerhati pendidikan dan kebudayaan. Karena itu kau akan ke sana dahulu
selama tiga bulan baru mencari waktu untuk meluangkan waktu bersamaku.
Tidak masalah, pikirku. Bisa saja aku yang menyusul ke Papua nanti, di
perbatasan Papua Nugini. Yah, rencana itu tiba-tiba menyenangkan bagiku.
Ini akan menjadi kejutan baginya ketika kumuncul di sana. Ah, setelah
sekian lama, perutku serasa digelitiki kunang-kunang yang membahagiakan.
Dan sekian kenangan berkelebat-kelebat tentang kau beberapa malam ini.
Sampai akhirnya berita tadi pagi di TV menyebutkan tentang sebuah
kecelakan pesawat pembawa tim dari luar negeri yang menuju daerah
perbatasan Papua Nugini membuat kesadaranku berkeping-keping dalam waktu
tak terkira. Membuat seluruh nestapaku menghablur dalam rintik hujan
pagi itu, menyemburat dalam kesuraman batin yang makin lara. Kau
menjelma laksana merpati di atas samudera.
Dulu aku tak sempat menyampaikan kata perpisahan, dan kini aku tak pernah sempat lagi menyampaikan kata jumpa padamu
***
Tak ada pengorbanan yang sia-sia, ketika kau melakukan itu dengan keikhlasan hatimu untuk dunia.
No comments:
Post a Comment