Friday, October 14, 2011

Berbatas Tepi Langit dan Lautan


[ please follow the link and listen to the song while reading this story ]

Saat aku melangkah, dan menatap nanar sekitar, rasa ini semakin menghantui ... Inikah gelisah ?
Saat kupejamkan mata, dan ingin kutangiskan perasaan dari dalam hatiku ... Inikah khawatir ?
Saat kupuja galau dalam setiap lintasan pikiran ... Inikah bingung ?
Saat detik berlalu, dan kubuka mata, lalu hatiku bergetar ... Inikah takdir ?

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Setiap kali aku menanti di tepian pantai yang menampilkan kabut di ujung dermaga, aku mulai takut. Ingin kupalingkan topeng yang menyelimuti langkahku, tapi serasa lunglai tubuhku di tepian ragu ini. Entah sudah berapa banyak tanda tanya kusampirkan pada halimun yang turun dari atas bukit menjelang senja. Tapi hanya sayup-sayup kudengar jawaban angin yang memeluk harapan. Kutatap sang langit yang berbalut cahaya lembayung ungu, sangat berharap aku tidak sendiri saat ini.

Pada guratan ombak yang menyentuh pasir, seekor kepiting kecil bergerak perlahan. Ku teringat sentuhan tanganmu, dan kerling bintang dimatamu. Seorang kekasih yang lima belas tahun tak kembali, tapi masih menyisakan kenangan serupa burung merpati putih yang melayang di atas awan. Begitu lembut dan penuh kasih. Sekelebat halusinasi menyembul di benakku. 

Kerinduan lima belas tahun. Kesetiaan yang mungkin akan dianggap bodoh bagi banyak orang. Tapi tidak bagiku. Ini adalah bukti seberapa besar aku mencintaimu. Bukan bukti pada orang-orang itu, bukan juga bagimu, tapi untukku. Tentang kekuatanku menahan terpaan ujian rayuan mereka yang hanya menginginkan tubuhku dan bukan hatiku. 

Kau tahu, banyak lelaki tampan yang tergila-gila padaku. Itu sudah menjadikan aku menyadari bahwa memang mereka hanya memuja tubuhku. Sedang kau, kau hanya bilang, "Maaf aku tak berani mencintaimu. Kau terlalu sempurna untukku."

Bagaimana cara kita mencintai kekasih kita itu sepenuhnya adalah urusan pribadi. Tak ada yang lebih konyol selain membandingkan antara cinta kita dengan cinta milik orang lain. Tapi apakah cinta pada seorang kekasih gelap lebih menakjubkan dibanding kekasih biasa ? Aku tidak tahu. 

Sebuah jawaban "iya" tentunya akan menyakiti hati. Keberanian memperturutkan hasrat dan melanggar nilai-nilai tidaklah selalu merupakan penanda akan besarnya cinta. Namun jawaban "tidak" rasanya juga akan mendapat tanggapan "memangnya kau tinggal di dunia yang mana ?". Cinta yang besar, hingga merebut tempat dan kedudukan pikiran, sangat dekat dengan kebodohan dan kegilaan. Dan ketahuilah bahwa ada saat-saat tertentu ketika kebodohan dan kegilaan terasa sangat heroik.

Mencintai dengan sangat intens atau pun mencintai sampai pada taraf, berharap seandainya bisa "tidak mencintai siapapun", adalah sebuah pengalaman pribadi yang sangat mendalam dimana kebodohan dan kegilaan bercampur dengan keindahan seperti adegan dalam drama. Kenyataan bahwa tidak semua orang mengalami drama itu adalah sebuah pemicu yang lain kenapa sosok kekasih, baik yang terang maupun yang gelap, menjadi seperti teman imajiner dari anak tunggal yang kesepian.

Yah, kekasih gelap. Kau adalah kekasih gelapku. Selama ini tak seorang pun mengetahui perasaanku ini, tidak juga kau. Sejak kau katakan hal tentang kesempurnaanku itu, sejak itu pula kau menghilang. Tak ada kabar sepenggal kata. Hanya sepotong kisah bahwa kau pergi melanglang buana, menyeberangi samudera, menjelajah benua, menapaki puncak-puncak tertinggi. Mengabdikan diri pada anak-anak dunia yang diterpa nestapa. Tak menyadari bahwa semenjak kau pergi, nestapaku adalah keruntuhan dunia.

Dulu percakapanmu selalu mengisi tempat kosong di benakku. Kala aku tak punya jawaban, kau selalu punya jawaban. Bahkan bila kau tidak tahu pun, itu serasa jawaban yang sangat pas bagiku. Sebenarnya kau tak banyak bicara. Lebih banyak tersenyum saat mendengarkan ceritaku. Tentu saja aku berusaha menciptakan banyak cerita agar aku punya alasan menatap binar semangat di matamu. Tapi entah kenapa waktu itu aku tidak menyadari kenapa kulakukan itu. Yang kutahu aku jadi senang membaca untuk bisa menceritakan kembali padamu. Dan aku senang saat melihat ekspresimu yang berubah-ubah pada perbincangan kita.

Satu hal yang selalu membuatku terkenang padamu adalah kegiatan kita membantu "Kelahiran Anak Dunia", demikian kau menyebutkan kesibukan kita yang bisa terbilang aneh itu. Menumbuhkan bibit pohon dan perjalanan kita menanam calon-calon penghijau alam di tepi jalan setiap minggu itu laksana kisah negeri dongeng, dan kau adalah peri hutannya. 

Cita-citamu waktu itu adalah "satu hari kutanam satu pohon". Maka setiap minggu kita membawa dua set "Anak Dunia", masing-masing berisi tujuh bibit, milikku dan milikmu. Kemudian kita mencari tepi jalan yang tandus tanpa pohon. Mungkin pengendara kendaraan akan melihat itu sebagai keanehan di siang bolong. Dua orang tertawa-tawa dalam panas hari, menancapkan bibit tanaman di tepi jalan, memberinya pagar kecil dari bilah bambu, kemudian menyirami pohon kecil itu dengan sebotol air. Lalu, mengheningkan cipta dan mendoakan kelahirannya dengan adzan serta beberapa ayat suci Al Qur’an, layaknya kelahiran bayi. 

Aneh? Bagiku begitu awalnya, tapi setelah beberapa minggu. Aku mengagumimu. Itu adalah usahamu sebagai manusia lemah yang tak memiliki kemampuan apa-apa tapi memiliki keinginan bermanfaat bagi dunia, dibandingkan dengan tidak melakukan apa-apa sama sekali atau hanya menyalahkan iklim yang tak jelas kondisinya. Dan saat kita berdoa agar para "Anak Dunia" itu dapat tumbuh dan dilindungi oleh-Nya, itu begitu indah. Itulah kau. Dan setiap kau baca bait ayat suci itu pada setiap pohon, aura cantikmu semakin nyata. 

Enam bulan tepat kita menyusuri jalan di kota ini setiap minggu. Ketika suatu hari kau bilang, "Masih ingat waktu aku bilang akan mendaftar sebuah proyek pelestarian alam? Ini jawaban mereka," katamu sambil menyodorkan sebuah print out flyer dan surat elektronik tentang perekrutan anggota sebuah organisasi internasional. 

Sebenarnya aku tak terlalu ingat hal itu, karena kupikir kau tak serius. Aku pikir kau tak punya keberanian sejauh itu. Tapi kalimatmu selanjutnya langsung membuatku terhenyak. "Aku berangkat bulan depan setelah wisuda, ke Canada. Mungkin selama dua tahun di sana, tiga tahun berikutnya aku ke Afrika.

Awalnya aku masih bersikap biasa setelah pemberitahuan itu. Namun dua minggu menjelang keberangkatanmu, kemarahan menyeruak di dadaku. Dan aku menolak berjumpa, tentu saja dengan alasan-alasan yang kubuat-buat dan kutitipkan pada siapa pun yang mungkin akan kautanyai. Entah mengapa kemarahan itu meluap dari hatiku, aku pun tak tahu. Yang kutahu saat itu adalah segala rasa takut, khawatir, bingung, kehilangan dan gelisah teraduk-aduk di telaga batinku. 

Bahkan sampai akhirnya keberangkatanmu aku tak sudi muncul untuk mengantarkanmu, sebagai seorang sahabat yang seharusnya menemani dan memberikan semangat. Aku malah menghabiskan waktu dengan kegiatan pemanjatan tebing pembuatan jalur baru di Sulawesi. Semua itu mungkin lebih kulakukan untuk tak memikirkan akan sebuah asa yang pergi. Sampai akhirnya kuterima sepucuk surat dari temanku saat ku kembali ke rumah, berisi permohonan maaf tak sempat berpisah, ah, seakan itu adalah kesalahanmu, dan kalimat, "Maaf aku tak berani mencintaimu. Kau terlalu sempurna untukku."

Hari itu aku bagai ditampar seribu halilintar. Seharusnya rasaku dan rasamu sempat disatukan sebelum itu. Tapi entah mengapa aku tak berusaha melihat lebih jauh. Aku hanya merasa bahwa kita masih punya waktu yang panjang untuk bersama sampai rasa itu makin jelas. 

Sampai bertahun-tahun kemudian aku tak tahu kabarmu lagi. Selain karena lokasimu adalah daerah terpencil yang sulit dijangkau segala alat komunikasi, kau pun tak pernah kembali ke Indonesia, bahkan setelah lima tahun lewat dari kontrak proyekmu. Sebagai anak yatim-piatu tanpa saudara, selama ini kau menghidupi diri sendiri. Kau seperti burung merpati pembawa kedamaian yang bebas terbang kemana pun tanpa beban di sayapmu

Dan aku, entah kenapa sejak hari itu aku tak pernah bisa melihat laki-laki lain lebih sempurna darimu untuk bersanding denganku. Aku sudah mencapai tahap "tidak mencintai siapapun". Jadi kulalui hari-hari sepanjang tahun dengan segala kegiatan petualangan gila-gilaan. Sebagai kegiatan penghilang gelisah atau mungkin harapan pada sepotong jalan yang tanpa disangka akan mempertemukan kau dan aku

Akhirnya lima tahun sudah. Dan satu bulan lalu, sebuah invite di akun facebook-ku berisi nama dan wajahmu muncul. Raut wajahmu nyaris tak berubah, masih sama seperti seperti dulu sebelum kau pergi, hanya lebih dewasa dan senyummu nampak menyenangkan. Rasa itu muncul kembali. Obrolan yang kunanti selama ini telah kembali. Dan sebulan ini aku selalu tak sabar untuk menanti jadwal chat kita, berbagi kisah petualangan kita. Bahkan kabar berikutnya bahwa kau akan kembali ke Indonesia dalam waktu sebulan ini benar-benar membuatku berteriak kencang di depan monitor laptopku
Proyek internasionalmu kali ini ternyata adalah untuk mencapai Papua, tentang penelitian kebudayaan di sana bersama sebuah yayasan internasional pemerhati pendidikan dan kebudayaan. Karena itu kau akan ke sana dahulu selama tiga bulan baru mencari waktu untuk meluangkan waktu bersamaku. Tidak masalah, pikirku. Bisa saja aku yang menyusul ke Papua nanti, di perbatasan Papua Nugini. Yah, rencana itu tiba-tiba menyenangkan bagiku. Ini akan menjadi kejutan baginya ketika kumuncul di sana. Ah, setelah sekian lama, perutku serasa digelitiki kunang-kunang yang membahagiakan. Dan sekian kenangan berkelebat-kelebat tentang kau beberapa malam ini.

Sampai akhirnya berita tadi pagi di TV menyebutkan tentang sebuah kecelakan pesawat pembawa tim dari luar negeri yang menuju daerah perbatasan Papua Nugini membuat kesadaranku berkeping-keping dalam waktu tak terkira. Membuat seluruh nestapaku menghablur dalam rintik hujan pagi itu, menyemburat dalam kesuraman batin yang makin lara. Kau menjelma laksana merpati di atas samudera.

Dulu aku tak sempat menyampaikan kata perpisahan, dan kini aku tak pernah sempat lagi menyampaikan kata jumpa padamu


***

Tak ada pengorbanan yang sia-sia, ketika kau melakukan itu dengan keikhlasan hatimu untuk dunia.

No comments:

Post a Comment