Saturday, November 5, 2011

Kemala Lembayung


Kuayunkan langkah pada sumpah yang sempat terpatri
Menyeret debur ombak pada kesepian yang selalu berulang
Di sepanjang malam angin tumbuh pada lautan yang bertabur angan
Terpangkas dari ingatan pasir yang bergulir resah
Duri menggurat di sekujur tubuh
Dari rimbun belukar tempat jantung merayapkan detak
Tanah terluka merah basah
Bertaut asap dupa mencumbu asa segala
Nafasku belum terbelah

Sebenih cinta dalam genggaman belum tersemai
Separuh hidup dalam taruhan dunia
Separuh itu aku menginginkan kasih
Andai bisa kuuraikan nasib
Agar dunia tak lagi butakan hati para kekasih
Pun rintihan di sudut waktu hanya menguburkan rasa
Mereka yang mendengarkan firman hanya dari selubung
Mengartikannya sebagai dengki dan umpatan
Yah, mereka yang terbutakan aliran masa
Terperangkap dalam dendam di bibir yang tak terkatup
Gurau yang bukan canda
Cemburu yang iri pada pesta kemurkaan
Teriakan angkara nan membakar pepohonan hening
Merugi yang meluap di lorong-lorong keserakahan
Yang mengartikan cinta hanya pada paha terburai
Yang menertawakan penjelasan
Berkumpul di palung tak bertepi
Temaram makin menyertaiku
Hasrat tergantung pada bintang-bintang
Cahaya yang semakin menyempit nun jauh
Aku benar-benar terurai pada sisa langkahmu
Lalu kularung rindu ini
Padamu
Mengertikah kau
Aku tak lagi sedih
Aku tak pernah memahami arti kesedihan
Seperti air yang tidak paham mengapa ia harus mengalir dari atas ke bawah
Layaknya diriku yang selalu saja memendam entah perasaan apa ini
Atau mengapa aku selalu menangis saat gelisah juga saat tertawa
Menertawakan kegilaan jiwa-jiwa yang putus asa
Atau saat menari tanpa gerakan
Mengikuti putaran langit dan bumi
Meringkuk jauh dalam kelelahan akan pikiran orang-orang
Oh, mengapa ini tak jua henti ?
Termenung dalam ketidakpahaman
Aku tak pernah lelah akan imaji tentangmu
Yang selalu berkata, "Biarkan langit cemburu pada tarianmu."
Damai itu meruntuhkan belulang ego yang menyerpih kalbu
Seiring desiran nafas mata angin
Besok hari saat kau terima pesan ini
Datanglah ke aula pertama kita
Aku tak lagi ingin berucap
Juga mencarimu di setiap kata
Aku sudah letih
Aku hanya ingin kau tahu tentang aku
Secukupnya
Jika mimpi adalah jiwa yang berharap
Mungkin selanjutnya takdir akan berkata lain
Akan kupersembahkan tarian terakhirku
Lalu akan kupuja berhala yang bernama bahagia
Berwujud engkau itu.

No comments:

Post a Comment